Sri Mila Hardiana, Pengusaha Tenun Pionir Dari Sukarara

Sri Mila Hardiana atau akrab dipanggil Ana merupakan pengusaha tenun dari Desa Sukarara yang sukses secara finansial. Kami lebih banyak bertanya soal tantangan-tantangan yang ia hadapi ketika memulai usahanya dan bagaimana ia dapat menemukan titik temu antara tradisi dan strategi bisnis modern.

“Awalnya ya sudah deh coba-coba saja, berani, nekat. Daripada nggak ada kerjaan, maksudnya ya posting-posting saja, siapa tahu beruntung. Eh ternyata beruntung banget”

Sri Mila Hardiana adalah seorang pengusaha tenun dari Sukarara yang akrab disapa Ana. Ia lahir dalam keluarga saudagar dimana kedua orangtuanya sama-sama pebisnis, ibunya sempat membuka usaha meubel dan membuka warung, sedangkan ayahnya adalah seorang supir truk yang akhirnya mendirikan usaha logistik. Ana adalah anak pertama dari dua bersaudara, adik perempuannya juga memilih jalan untuk berbisnis di industri yang serupa, yaitu pakaian.

Sri Mila Hardiana (Ana), seorang pengusaha kain tenun dari Desa Sukarara dengan berbagai koleksi tenun di galeri miliknya. Ia mendesain motif kontemporer yang mengkombinasikan berbagai motif tradisional Lombok dan menghadirkan ulang kain tersebut dengan warna-warna pastel yang lebih terasa muda.

Perkenalannya dengan dunia bisnis dimulai sejak ia berkuliah di jurusan ekonomi di Universitas Mataram. Bermodal pendidikan bisnis dasar, ia berjualan kosmetik dan tas secara online, dimana ia menggunakan Facebook sebagai medianya untuk berjualan.

Kami mengunjungi rumahnya, dimana pemandangan pertama adalah paviliun rumah yang mungil, didekorasi dengan tiga alat tenun. Dua orang penenun sedang bekerja saat kami berkunjung. Tak lama kemudian, Ana datang dan mengundang kami untuk berkunjung ke galerinya, yang terletak di bagian fasad rumahnya. Memang Ana terlihat sangat ahli menggunakan media digital, bahkan saat kami mewawancarainya, ia bolak-balik minta difoto untuk dimasukkan ke Instagram story. Lewat usaha menjual tenun, Ana bisa mendapatkan omset rata-rata 75 juta rupiah setiap bulannya. Walaupun begitu, ia banyak sekali menemukan kesulitan dalam merintis usahanya.

Dengan koleksi tenun kontemporernya yang berbeda dengan kebanyakan produksi kain tenun lainnya, Ana dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Usahanya merupakan salah satu perusahaan yang dapat memimpin pasar kain tenun di Lombok. Pengembangan produk yang dilakukan Ana dapat menjadi salah satu contoh yang dapat dikembangkan di Lombok.

Tantangan Dalam Memulai Usaha Tenun

“Wah, bukan!,” kata Ana dengan lantang saat menceritakan kisahnya. “Justru, masalahnya itu banyak dari para penenun itu sendiri. Pernah saya naik motor sendirian di Sukarara, panas-panasan, mencari penenun yang mau bekerja dengan saya,” ceritanya. Tetapi menemukan penenun bukanlah masalah utama, masalah lain juga datang dari perbedaan selera. “Mereka punya keinginan mereka sendiri, lah. Mereka juga tidak mau menenun motif yang sulit karena mereka sudah terbiasa untuk menenun dari benang apapun yang mereka punya. Belum lagi, mereka tidak punya jadwal tetap untuk menenun. Sedangkan saya itu orangnya teliti sekali, jadi kalau kurang bagus saya juga tidak mau beli,” ujar Ana

Selain perbedaan selera, Ana juga menjelaskan bahwa permasalahan komunikasi juga menjadi hal utama yang ia hadapi. Dalam tenun, tentu akurasi warna adalah hal yang penting. Namun, istilah warna yang digunakan Ana dalam bahasa Indonesia berbeda dengan istilah yang disebutkan dalam bahasa daerah Lombok. Misalkan, Ana menjelaskan bahwa ia menginginkan warna biru tua, namun penenun tersebut malah memakai warna biru muda.

Dengan warna pastel, kain tenun yang Ana jual tampak berbeda dibandingkan tenun yang biasa diproduksi dan dijual di Lombok. Ana merancang sendiri motifnya dengan memodifikasi motif tradisional Lombok. Dalam proses mendesain, ia telah menggunakan media digital dan referensi yang ia dapatkan dari internet.

Tantangan lain yang harus dihadapi Ana adalah kekurangan dari media digital. Meskipun memudahkan Ana untuk berjualan, tetapi beberapa orang di Lombok yang belum pernah menggunakan internet justru ragu untuk percaya dengannya, khususnya saat berhubungan dengan transaksi. Selain itu, karena produknya ditampilkan secara online di Instagram ataupun Facebook, desainnya dengan mudah dicuri oleh pesaing bisnisnya, dan dijual dengan harga yang lebih murah.

Dua penenun pegawai Ana sedang menenun di paviliun mungil sebelah rumahnya. Baru-baru saja Ana mempekerjakan tiga penenun untuk memudahkan kontrol kualitas dan memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat.

Kegesitan Ana dalam Melihat Kesempatan

Walaupun menemui banyak kesulitan, Ana berhasil mengembangkan langkah-langkah strategis dalam mengembangkan usahanya. Selain mulai mempekerjakan beberapa penenun secara tetap, ia juga memberikan dukungan pada acara-acara terbesar di Lombok. Misalnya pada acara Putri Mandalika, kontes kecantikan yang ada di Lombok. Karena itulah, tenun produksi Ana dikenal sebagai tenunnya Putri Mandalika, dari situlah ia banyak dikenal dan juga mendapat banyak kesempatan dari pemerintah untuk mengembangkan bisnisnya.

Sebagai pengusaha, Ana telah berhasil menjadi pengembang ekosistem di daerah yang masih mengalami berbagai limitasi yang hadir dari para penenun Lombok itu sendiri, khususnya bagaimana kultur tradisional bertabrakan dengan modernitas. Permasalahan-permasalahan dasar seperti bahasa, kebiasaan, maupun kegagapan dalam menghadapi teknologi masih menjadi permasalahan inti yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum melakukan pengembangan yang lebih terarah.

SHARE ON

Pin It on Pinterest